loading...
PM Israel Benjamin Netanyahu (kanan) dilaporkan frustrasi dengan Mossad karena gagal wujudkan janjinya untuk gulingkan rezim Iran dengan cepat. Foto/Kobi Gideon/GPO
TEL AVIV - Sebuah laporan dari The New York Times mengungkap bahwa Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu frustrasi dengan badan intelijen Mossad. Alasannya, badan mata-mata itu telah menjanjikan penggulingan rezim Iran dengan cara memicu protes publik sehingga membuat Amerika Serikat (AS) dan Israel dapat memenangkan perang dengan cepat—tapi rencana tersebut gagal.
Kepala Mossad David Barnea telah bertemu dengan Netanyahu beberapa hari sebelum AS dan Israel memulai perang mereka terhadap Iran. Dalam pertemuan itu, Barnea mengatakan kepada Netanyahu bahwa badan mata-mata Israel tersebut akan mampu menggalang oposisi Iran untuk mewujudkan perubahan rezim.
Baca Juga: Begini Cara AS dan Israel Bunuh Khamenei di Iran: Informasi CIA-Mossad Dieksekusi Jet Tempur
Menurut laporan The New York Times, yang mengutip wawancara dengan pejabat AS dan Israel, Barnea juga menyampaikan proposalnya kepada pejabat senior AS selama kunjungan ke Washington pada pertengahan Januari.
Rencana tersebut kemudian diterima oleh Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump, meskipun ada keraguan di antara beberapa pejabat senior Amerika dan intelijen militer Israel. Menurut pejabat AS dan Israel, janji-janji Mossad itulah yang digunakan oleh Netanyahu untuk meyakinkan Trump bahwa runtuhnya pemerintahan Iran adalah mungkin.
Dalam konsep rencana tersebut, perang akan dimulai dengan pembunuhan para pemimpin Iran, diikuti oleh serangkaian operasi intelijen yang bertujuan untuk mendorong perubahan rezim. Mossad percaya bahwa ini dapat menyebabkan pemberontakan massal yang akan membawa kemenangan bagi Israel dan AS.

















































