loading...
Pendiri Yayasan Panca Palma Tropika Indonesia, Petrus Gunarso saat pemaparan dalam Forum Diskusi Terbatas (FDT) yang diselenggarakan Rumah Sawit Indonesia (RSI) di IPB University, Bogor, Senin (31/8/2026). Foto/Dok. SindoNews
BOGOR - Indonesia saat ini dihadapkan pada tiga tantangan strategis nasional secara simultan: ketahanan pangan , kemandirian energi, dan ketahanan iklim. Sebagai negara beriklim tropis yang hanya memiliki dua musim, Indonesia pada dasarnya memiliki keunggulan komparatif pengelolaan lingkungan yang lebih efisien dibandingkan negara-negara dengan empat musim.
Namun, keberhasilan mengatasi ketiga tantangan geopolitik dan ekonomi ini sangat bergantung pada kepastian tata kelola ruang serta bentang alam secara berkelanjutan. Pendiri Yayasan Panca Palma Tropika Indonesia, Petrus Gunarso, menegaskan akar tantangan ekologi dan pembangunan nasional tidak bisa diselesaikan melalui pendekatan sektoral yang terpisah. Melainkan harus dipandang sebagai satu kesatuan bentang alam (lanskap). Baca juga: Geopolitik Global Tak Stabil, Menteri Nusron Batasi Alih Fungsi Sawah demi Ketahanan Pangan
"Pendekatan kita harus bergeser. Persoalan hari ini bukan sekadar tentang kebun sawit semata, melainkan persoalan tata kelola bentang alam secara utuh dan terintegrasi," katanya dalam Forum Diskusi Terbatas (FDT) yang diselenggarakan Rumah Sawit Indonesia (RSI) di IPB University, Bogor, Senin (31/8/2026).
Petrus memaparkan tata kelola lanskap berkelanjutan wajib mengintegrasikan seluruh elemen ruang secara proporsional dan memiliki kepastian hukum, yang mencakup: kawasan konservasi, hutan produksi, perkebunan kelapa sawit, pertanian pangan, dan sungai serta daerah aliran sungai.
“Penetapan proporsi area perlindungan ekosistem harus jelas dan terlindungi. Juga perlu optimalisasi budidaya sektor kehutanan yang lestari,”kata Petrus dalam FDT bertema “Membangun Ketahanan, Kemandirian Pangan dan Energi Melalui Nexus Baru Tata Kelola Sawit Berkelanjutan” tersebut.


















































