loading...
Secara statistik, narasi kelas menengah Indonesia memang sedang muram. Laporan terbaru dari Bank Dunia dan data BPS menunjukkan sekitar 86 juta jiwa kini berada di ambang rentan. Ilustrasi/Dok. SindoNews
JAKARTA - Secara statistik, narasi kelas menengah Indonesia memang sedang muram. Laporan terbaru dari Bank Dunia dan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 86 juta jiwa kini berada di ambang "rentan”. Sebuah posisi di mana satu kali guncangan ekonomi saja cukup untuk melempar mereka keluar dari zona nyaman. Biaya hidup, mulai dari harga pangan hingga cicilan rumah , terus merangkak naik, sementara pertumbuhan gaji bulanan sering kali terasa berjalan di tempat.
Jika rata-rata kenaikan gaji tahunan di sektor formal sering kali tertahan di kisaran 4-5%, harga bahan pangan pokok dan kebutuhan dasar justru melesat jauh di atasnya. Mengutip data dari pusat informasi harga pangan nasional, lonjakan harga komoditas utama sering kali menyentuh angka belasan persen dalam setahun, menciptakan anomali di mana kenaikan gaji seolah "habis di pasar" sebelum sampai ke tabungan. Baca juga: Kelas Menengah Terus Menyusut, Mampukah RI Jadi Negara Maju di 2045?
Ketimpangan inilah yang memicu perubahan perilaku yang drastis di dalam rumah tangga. Jika dahulu resep utama menghadapi kesulitan ekonomi adalah berhemat dengan memotong biaya langganan hiburan atau memilih transportasi murah, kini strateginya telah berubah.
Ketika pengeluaran sudah berada di titik paling dasar, tidak ada lagi yang bisa dipotong. Satu-satunya jalan adalah menambah apa yang masuk ke kantong. “Kita melihat pergeseran pola yang cukup jelas. Banyak keluarga tidak lagi mengandalkan satu sumber pendapatan saja,” kata Business Strategic Jakmall.com, Odie Rakaditya dalam siaran tertulis, Selasa (5/5/2026)
Menurutnya, keluarga Indonesia kini berhenti sekadar bersikap defensif. Mereka mulai mengambil langkah aktif dengan menjadikan bisnis sampingan bukan lagi sebagai "pekerjaan remeh", melainkan bagian integral dari strategi pertahanan finansial rumah tangga.
Karakteristik bisnis yang dipilih pun kian spesifik: risiko terkontrol dan fleksibilitas tinggi. Mereka tidak lagi mencari bisnis yang menuntut sewa ruko mahal, melainkan model usaha digital yang bisa dikelola dari ruang tamu setelah jam kantor usai atau di sela-sela mengurus anak. Platform digital seperti Jakmall.com kemudian hadir menjadi "sekoci" bagi mereka yang ingin memulai usaha secara terstruktur tanpa beban operasional yang mencekik. Baca juga: 3 Tips Raih Penghasilan Tambahan Tanpa Ganggu Pekerjaan Utama
Fenomena ini diprediksi tidak akan bersifat sementara. Selama tekanan ekonomi belum mereda, strategi memiliki lebih dari satu sumber pendapatan akan menjadi bagian dari perencanaan keuangan yang paling realistis. ”Pada akhirnya, bagi keluarga Indonesia, "Normal Baru" ini bukan tentang keserakahan untuk menumpuk harta, melainkan tentang ketahanan dan cara paling jujur untuk menjaga stabilitas jangka panjang di tengah badai ketidakpastian,” ujarnya.
(poe)

















































