loading...
(Ki-ka) Direktur Asia Tenggara ITDP Indonesia Gonggomtua E Sitanggang, Guru Besar Teknik Lingkungan ITB Puji Lestari, Direktur Eksekutif ViriyaENB Suzanty Sitorus, dan Guru Besar Departemen Kesehatan Lingkungan UI R Budi Haryanto. Foto: Ist
JAKARTA - Dua studi terbaru Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan polusi udara Jabodetabek tidak dapat ditangani secara parsial oleh satu daerah atau sektor. Pemodelan kualitas udara menemukan bahwa ketika emisi Jakarta diasumsikan nol, wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi masih berkontribusi 38,51 persen terhadap konsentrasi PM2.5 di Jakarta.
Studi Inventarisasi Emisi Wilayah Jakarta Raya dan Source Apportionment PM2.5 di Jakarta dilakukan Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah (KK PUL) FTSL-ITB dipimpin Puji Lestari dengan dukungan ViriyaENB.
Baca juga: BMKG: Ada 2 Syarat agar Modifikasi Cuaca Atasi Polusi Jakarta Berhasil
Pemantauan PM2.5 di Jakarta Barat pada Februari-Desember 2025 mencatat rata-rata konsentrasi 34,1 µg/m³. Angka ini lebih dari dua kali baku mutu tahunan Indonesia sebesar 15 µg/m³ dan sekitar 6,8 kali pedoman WHO sebesar 5 µg/m³.
Studi juga menunjukkan sumber polusi berbeda antarwilayah. Transportasi dominan di Jakarta dan sejumlah kota penyangga, industri dominan di Kabupaten Bogor dan Kota Tangerang, sedangkan pembangkit listrik dominan di Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Tangerang.
Di Jakarta, truk menjadi penyumbang emisi PM2.5 terbesar dari sektor transportasi yakni 34,96 persen, disusul mobil penumpang diesel sebesar 21,21 persen.
Guru Besar Teknik Lingkungan dan Kepala Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara & Limbah (KK PUL) FTSL-ITB Puji Lestari mengatakan, kualitas udara Jabodetabek dipengaruhi oleh kendaraan berat dan logistik, mobilitas komuter, industri, serta pembangkit listrik. Karena itu, pengendalian tidak bisa berhenti pada batas administratif.


















































