loading...
Muhammad Syarkawi Rauf, Dosen FEB Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Ketua KPPU RI 2015-2018. Foto/Dok.SindoNews
Muhammad Syarkawi Rauf
Dosen FEB Universitas Hasanuddin (Unhas)
Ketua KPPU RI 2015-2018
EKONOM Amerika Serikat (AS), Walter Isard (1954), founding father dari regional science (ilmu ekonomi regional) mengadopsi hukum gravitasi Newton untuk menjelaskan daya tarik ekonomi suatu kawasan yang tergantung pada tingkat konsentrasi asset ekonomi dan penduduk di wilayah bersangkutan.
Disparitas antar kawasan terjadi karena kawasan dengan potensi pasar besar menerima aliran modal, investasi dan tenaga kerja juga dalam jumlah besar. Sementara, kawasan yang terisolasi karena jarak yang jauh dari pusat pertumbuhan tidak menarik bagi investor.
Fenomena disparitas regional seperti dalam gravity model yang diperkenalkan oleh Isard (1954) dapat diamati dalam konteks interaksi ekonomi antara Kawasan Timur Indonesia (KTI) dengan Kawasan Barat Indonesia (KBI).
Hal ini ditunjukkan oleh kontribusi KTI dalam perekonomian nasional yang tidak mengalami banyak perubahan dalam satu dekade terakhir, yaitu hanya sekitar 20 persen pada kuartal kedua 2026.
Sementara, kontribusi KBI yang terdiri dari Pulau Jawa dan Sumatera sangat dominan, yaitu sekitar 80 persen dari total Produk Domestik Brutho (PDB) secara nasional pada kuartal kedua 2026.
Jika dibandingkan dengan satu dekade yang lalu, maka nampak tidak ada perubahan, kontribusi KTI dalam perekonomian nasional sekitar 19,17 persen. Sisanya KBI yang menyumbang sebesar 80,83 persen terhadap kue ekonomi nasional.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, daerah-daerah di KTI secara rata-rata hanya mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 4,27 persen pada kuartal kedua 2026. Lebih rendah dibandingkan daerah-daerah di KBI yang tumbuh sekitar 5,36 persen pada kuartal kedua 2026.
Implikasinya, sumbangsih KTI dalam pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal kedua 2026 hanya sekitar 0,93 persen. Sebaliknya, sumbangsih KBI jauh lebih besar, yaitu sekitar 4,36 persen dari 5,29 persen pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal kedua 2026.
Selanjutnya, dari sisi penyaluran kredit perbankan nasional untuk investasi menunjukkan bahwa porsi daerah-daerah di KTI juga sangat kecil, yaitu sekitar 18-22 persen. Sementara porsi terbesarnya sekitar 78-82 persen dinikmati oleh daerah-daerah di KBI.
Sekitar 55-60 persen penyaluran kredit investasi dilakukan di Pulau Jawa. Termasuk dalam kategori sangat tinggi.


















































