Perang Timur Tengah dan Lonjakan Harga Komoditas Dunia

13 hours ago 28

loading...

Listya Endang Artiani, Ekonom Universitas Islam Indonesia. Foto/Dok. SindoNews

Listya Endang Artiani
Ekonom Universitas Islam Indonesia

PERANG tidak lagi hanya mengguncang medan tempur. Ia juga mengguncang pasar komoditas dunia. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan bagaimana geopolitik dapat menggerakkan harga energi global hanya dalam hitungan hari.

Ketika jalur pelayaran energi di Selat Hormuz terancam, jalur yang menyalurkan hampir seperlima pasokan minyak duniapasar energi langsung bereaksi. Harga minyak melonjak, volatilitas komoditas meningkat, dan kekhawatiran inflasi global kembali muncul.

Peristiwa ini mengingatkan kembali pada satu kenyataan lama dalam ekonomi global: pasar komoditas tidak pernah benar-benar terlepas dari geopolitik. Gangguan pasokan energi di satu kawasan strategis dapat dengan cepat menjalar menjadi lonjakan harga komoditas di seluruh dunia. Dalam ekonomi global yang semakin terhubung, konflik militer di Timur Tengah tidak lagi menjadi persoalan regional semata, tetapi dapat berubah menjadi guncangan ekonomi global yang memengaruhi biaya produksi, inflasi, dan stabilitas pasar di berbagai negara.

Sejarah menunjukkan bahwa geopolitik memiliki pengaruh kuat terhadap dinamika pasar energi dan komoditas. Krisis minyak tahun 1970-an, misalnya, dipicu oleh konflik politik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi global. Lonjakan harga minyak saat itu tidak hanya memicu inflasi tinggi di berbagai negara, tetapi juga menyebabkan stagnasi ekonomi yang berkepanjangan.

Dalam perspektif ekonomi, lonjakan harga komoditas akibat konflik geopolitik sering dijelaskan melalui konsep supply shock. Ketika pasokan komoditas strategis terganggubaik karena konflik militer, sanksi ekonomi, maupun gangguan logistik dan kurva penawaran bergeser sehingga harga meningkat tajam. Pindyck dan Rubinfeld (2018) menjelaskan bahwa komoditas seperti energi dan pangan sangat sensitif terhadap perubahan pasokan karena permintaannya relatif tidak elastis.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |