loading...
Bagaimana dampak nyata dari perang tarif yang berkepanjangan ini terhadap peta perekonomian global dan dompet masyarakat? Berikut adalah poin-poin krusialnya. Foto/Dok
JAKARTA - Pemerintahan Donald Trump resmi mengetok kebijakan tarif impor ganda terhadap sekitar 60 negara mitra dagang utama. Kebijakan agresif ini diluncurkan tepat ketika tarif timbal balik 10% sebelumnya sudah kedaluwarsa, mengunci hampir 99% dari total arus barang impor yang masuk ke pasar Amerika Serikat (AS) .
Langkah ini menjadi jurus taktis Gedung Putih untuk membangun kembali 'benteng proteksionisme' Trump, setelah Mahkamah Agung AS (SCOTUS) pada Februari lalu membatalkan tarif darurat presiden karena dianggap melampaui wewenang tanpa persetujuan Kongres.
Untuk mengakalinya, Trump memanfaatkan Pasal 301 UU Perdagangan 1974 dengan mengenakan tarif berkisar 10% hingga 12,5% atas tuduhan penegakan hukum kerja paksa (forced labor) yang lemah di negara-negara mitra.
Baca Juga: Ini Daftar Lengkap 60 Negara Terdampak Tarif Baru AS: Indonesia Kena 10%, Siapa Digetok 12,5%?
Lantas, bagaimana dampak nyata dari perang tarif yang berkepanjangan ini terhadap peta perekonomian global dan dompet masyarakat? Berikut adalah poin-poin krusialnya:
1. Rerata Tarif Impor AS Tertinggi Sejak Perang Dunia II
Sejak tahun 1900 -dan terutama setelah Perang Dunia II- AS telah memimpin pergeseran global menuju perdagangan yang lebih bebas untuk membantu menurunkan harga. Tapi Trump bilang tren ini sudah terlalu jauh dan tarif terbaru dirancang agar menyeimbangkan kembali hubungan Amerika dengan seluruh dunia.


















































