Saat Gelar Tak Lagi Jadi Segalanya, Cara Pandang Orang Tua Mulai Berubah

10 hours ago 23

loading...

Pasca pengumuman hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026, ruang publik digital Indonesia tidak hanya diramaikan oleh euforia kelulusan. Foto/istimewa

JAKARTA - Pasca pengumuman hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026, ruang publik digital Indonesia tidak hanya diramaikan oleh euforia kelulusan, tetapi juga oleh munculnya kekhawatiran baru di kalangan orang tua. Dalam sepekan terakhir, percakapan di berbagai platform media sosial seperti Threads dan X, hingga diskusi sehari-hari, menunjukkan adanya pergeseran cara pandang terhadap pendidikan tinggi dan masa depan anak.

Data menunjukkan bahwa dari 806.242 siswa yang mendaftar SNBP tahun ini, hanya sekitar 178.981 siswa yang dinyatakan lolos. Di balik angka tersebut, ratusan ribu calon mahasiswa harus mencari alternatif lain untuk melanjutkan pendidikan.

Namun, perhatian publik kini tidak lagi hanya berfokus pada siapa yang lolos dan siapa yang tidak. Diskusi yang berkembang mulai menyentuh hal yang lebih mendasar: sejauh mana pendidikan tinggi masih relevan dalam menjawab tantangan dunia kerja saat ini.

Di berbagai percakapan yang muncul, semakin banyak orang tua yang mulai mempertanyakan efektivitas investasi pendidikan yang besar jika tidak dibarengi dengan kesiapan kerja yang nyata. Isu mengenai lulusan sarjana yang menganggur atau bekerja di bidang yang tidak relevan dengan studinya pun kembali mencuat dan menjadi bahan refleksi bersama.

Keresahan ini juga dipicu oleh realitas bahwa bahkan profesi yang selama ini dianggap stabil dan menjanjikan pun tidak sepenuhnya bebas dari risiko pengangguran. Hal ini mendorong orang tua untuk mulai berpikir ulang tidak hanya tentang jurusan atau kampus yang dipilih, tetapi juga tentang arah karier jangka panjang anak.

Jika sebelumnya fokus utama adalah memastikan anak masuk ke jurusan atau profesi “impian”, kini mulai muncul kesadaran baru. Orang tua semakin menyadari bahwa realitas industri, kebutuhan pasar kerja, serta dinamika ekonomi harus menjadi pertimbangan utama sejak awal.

Perubahan ini melahirkan pendekatan baru dalam melihat pendidikan tinggi. Orang tua kini tidak lagi hanya mengejar nama besar kampus, tetapi mulai mencari institusi yang mampu membekali mahasiswa menjadi sumber daya manusia yang siap menghadapi dunia kerja.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |