Mengapa Israel Sangat Takut dengan Pakta Pertahanan Mekkah?

4 hours ago 23

loading...

Israel sangat takut dengan Pakta Pertahanan Mekkah. Foto/X/@SouthAsiaIndex

RIYADH - Pakta Pertahanan bersama yang ditandatangani oleh Arab Saudi , Turki, dan Pakistan (dikenal sebagai Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah) akan mengubah keseimbangan strategis di Timur Tengah dan menempatkan kawasan tersebut dalam posisi berbahaya.

Menurut media berbahasa Ibrani ini, hanya sehari setelah pengumuman perjanjian tersebut, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif—yang menyebut Israel sebagai "ancaman bagi seluruh dunia Islam"—menyerukan pembentukan "front militer bersatu" untuk melawan rezim tersebut.

Surat kabar Zionis ini memperingatkan bahwa pimpinan rezim Israel tidak bisa memandang koalisi ini hanya sebagai masalah teknis semata, terutama ketika salah satu anggotanya (Pakistan) sudah berbicara mengenai pengorganisasian militer dunia Islam untuk melawan Israel.

Namun, Jerusalem Post menekankan bahwa Israel harus tetap menjaga hubungan yang sepenuhnya terbuka dengan Riyadh, karena kepentingan Tel Aviv terletak pada upaya mempercepat masuknya Arab Saudi ke dalam struktur keamanan kawasan yang dipimpin Amerika Serikat—yang mencakup Israel dan negara-negara Arab yang bersedia berkompromi; sebuah struktur yang bertujuan membentuk aliansi permanen untuk menghadapi Iran, meningkatkan kerja sama pertahanan rudal dan udara, serta melindungi jalur perdagangan.

Laporan tersebut lebih lanjut menyoroti perlunya Washington memberikan perhatian khusus terhadap peristiwa di Mekkah, dengan menyatakan bahwa langkah mitra lama Amerika (Arab Saudi) untuk mencari perlindungan di bawah payung keamanan tambahan dari Ankara dan Islamabad—yang memiliki senjata nuklir—merupakan peringatan serius mengenai memudarnya kepercayaan terhadap jaminan keamanan AS.

Analisis tersebut menekankan bahwa pemerintah AS perlu mempertanyakan mengapa salah satu mitra Arabnya yang paling penting merasa perlu adanya struktur keamanan alternatif, serta bagaimana AS dapat mencegah struktur baru ini mengambil pendekatan yang secara eksplisit anti-Israel.

The Jerusalem Post juga menyarankan agar Israel berkomunikasi secara jelas dengan Riyadh sembari melanjutkan upaya normalisasi. Menurut media tersebut, Arab Saudi dapat memainkan peran kunci dalam menciptakan stabilitas di Timur Tengah, dan Israel memiliki banyak alasan untuk merangkul Riyadh lebih dekat.

Perlu dicatat bahwa rincian teknis pelaksanaannya—seperti besaran dan jenis bantuan militer yang mengikat jika terjadi serangan—belum sepenuhnya diungkapkan. Namun, struktur keseluruhannya didasarkan pada prinsip pencegahan dan solidaritas keamanan, serta dibenarkan dalam kerangka hak bela diri secara individual maupun kolektif sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB.

Sebagian pihak menilai kesepakatan ini sebagai upaya Pakistan, Arab Saudi, dan Turki untuk memperkuat keamanan kolektif serta mengurangi ketergantungan semata pada jaminan keamanan dari pihak luar.

(ahm)

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |