Kisah Raja Faisal Arab Saudi Cekik Ekonomi AS dengan Embargo Minyak karena Amerika Pro-Israel

7 hours ago 25

loading...

Almarhum Raja Faisal bin Abdulaziz al-Saud, raja Arab Saudi yang pernah mencekik ekonomi Amerika Serikat karena Amerika pro-Israel. Foto/Wikipedia

JAKARTA - Hubungan Kerajaan Arab Saudi dengan Amerika Serikat (AS) relatif mulus dalam beberapa tahun terakhir, di mana Riyadh dianggap sebagai salah satu sekutu penting Washington di Timur Tengah. Namun, negara Islam tersebut sejatinya pernah menorehkan sejarah dengan berani mencekik ekonomi AS melalui embargo minyak.

Itu dilakukan oleh raja pemberani, Raja Faisal bin Abdulaziz al-Saud, pada tahun 1973. Langkah embargo minyak itu diambil sebagai respons terhadap dukungan AS terhadap Israel selama Perang Yom Kippur.

Baca Juga: 4 Skenario Bila Pasukan Darat AS Serbu Iran: Bisa Duduki Situs Nukir, Juga Bisa Dibantai IRGC

Perang Yom Kippur dimulai pada 6 Oktober 1973, ketika Mesir dan Suriah melancarkan serangan mendadak terhadap Israel yang pada saat itu sedang merayakan hari libur Yom Kippur. Konflik tersebut merupakan usaha negara-negara Arab untuk merebut kembali wilayah yang hilang selama Perang Enam Hari pada 1967.


Embargo Minyak Arab Saudi Mencekik Ekonomi AS

Sebagai reaksi terhadap dukungan Amerika Serikat kepada Israel, Raja Faisal memimpin keputusan untuk melaksanakan embargo minyak. Pada 17 Oktober 1973, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang pada waktu itu didominasi oleh negara-negara Arab, memutuskan untuk menurunkan produksi minyak dan menghentikan ekspor minyak ke negara-negara yang dianggap mendukung Israel, termasuk Amerika Serikat.

Menurut Daniel Yergin dalam bukunya The Prize: The Epic Quest for Oil, Money & Power, “Embargo minyak 1973 adalah salah satu momen yang mengubah secara radikal lanskap energi global. Dalam waktu singkat, negara-negara penghasil minyak Arab memanfaatkan posisi mereka untuk memengaruhi kebijakan luar negeri dan ekonomi negara-negara Barat.”

Langkah ini memiliki dampak langsung yang signifikan terhadap ekonomi global. Selama periode embargo, Arab Saudi mengurangi produksi minyak dari 10,5 juta barel per hari menjadi sekitar 5,5 juta barel per hari, dan harga minyak dunia melonjak dari sekitar USD3 per barel menjadi USD12 per barel dalam waktu singkat. Ini menunjukkan peningkatan harga minyak sebesar 300%.

Sebagai perbandingan, perang Iran melawan AS dan Israel sempat membuat harga minyak tembus USD100 per barel karena Teheran menutup sebagian Selat Hormuz.

Embargo minyak yang dimotori Raja Faisal kala itu menyebabkan krisis energi global yang mempengaruhi banyak negara, dengan Amerika Serikat menjadi salah satu yang paling terdampak. Krisis ini mengakibatkan lonjakan harga bahan bakar, antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar, dan inflasi tinggi.

Menurut Bassam Tibi dalam The New Middle East: What Everyone Needs to Know, “Krisis energi ini menyebabkan dampak ekonomi yang sangat besar, termasuk inflasi tinggi dan penurunan tajam dalam pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat.”

Pada puncaknya, inflasi tahunan di Amerika Serikat mencapai 12%, dan pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan yang tajam. Dalam jangka panjang, embargo ini memaksa Amerika Serikat untuk mengeksplorasi sumber energi alternatif dan memperkuat kebijakan energi nasional. Ini juga mempercepat diversifikasi ekonomi dan pencarian solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Arab Saudi Kaya Raya dalam Sekejap

Bagi Arab Saudi, embargo minyak kala itu merupakan berkah ekonomi. Pendapatan negara dari ekspor minyak melonjak secara drastis. Pada tahun 1973, pendapatan minyak Arab Saudi meningkat dari USD2,6 miliar pada tahun 1972 menjadi USD8,3 miliar.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |