Fenomena Telor Ceplok Muncul usai Gunung Anak Krakatau Erupsi, Ini Penjelasannya

19 hours ago 29

loading...

Fenomena telor ceplok muncul usai Gunung Anak Krakatau erupsi. Foto/istimewa

JAKARTA - Kondisi Gunung Anak Krakatau mereda setelah erupsi besar yang terjadi, pada 3 September 2026. Saat ini, hanya tersisa aktivitas kegempaan dan asap putih sisa erupsi.

Dari sisa aktivitas tersebut, muncul fenomena yang disebut masyarakat sebagai telor ceplok di area Gunung Anak Krakatau. Fenomena tersebut terlihat berupa pola warna kuning dan putih di area kawah.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan fenomena tersebut berkaitan dengan interaksi air, gas vulkanik, serta batuan dan mineral di lingkungan kawah.

"Fenomena kawah Anak Krakatau yang tampak seperti telur ceplok terjadi karena interaksi antara air yang menggenang di dasar kawah dengan gas vulkanik, terutama senyawa sulfur atau belerang, serta batuan dan mineral hasil alterasi hidrotermal. Warna kuning pada bagian tengah berkaitan dengan sulfur dan material mineral yang terbentuk atau terlarut akibat aktivitas vulkanik, sedangkan bagian putih di sekelilingnya merupakan batuan dan mineral yang mengalami alterasi oleh fluida serta gas panas," kata Daryono dalam keterangannya, dikutip Senin (21/9/2026).

Baca juga: Ilmuwan Prediksi Letusan Anak Krakatau 2026 Mendinginkan Bumi?

Menurut dia, genangan air berada di bagian terendah kawah. Sementara itu, proses kimia dan pengendapan mineral di sekitarnya menghasilkan kontras warna yang jika dilihat dari udara menyerupai kuning telur dan putih telur.

"Genangan air menempati bagian terendah kawah, sementara proses kimia dan pengendapan mineral di sekitarnya menciptakan kontras warna yang dari udara terlihat sangat menyerupai kuning telur dengan putih telur. Jadi, fenomena ini merupakan proses geokimia alami di lingkungan kawah vulkanik aktif, bukan sesuatu yang aneh, misterius, atau pertanda bahaya," ujarnya.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |