loading...
Kesenjangan distribusi dokter di Indonesia menjadi salah satu tantangan dalam memberikan layanan kesehatan yang merata. Foto/Mei Sada Sirait.
JAKARTA - Kesenjangan distribusi dokter di Indonesia menjadi salah satu tantangan dalam memberikan layanan kesehatan yang merata. Kondisi tersebut membuat pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai dilirik sebagai salah satu teknologi yang dapat membantu tenaga kesehatan, terutama dalam membaca hasil pemeriksaan medis.
Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan RI, Eko Sulistijo, mengatakan modernisasi alat kesehatan tidak selalu berjalan beriringan dengan ketersediaan dokter yang mampu menganalisis hasil pemeriksaan.
Baca juga: Ini 5 Tips Kulit Glowing untuk Pria, Salah Satunya Stop Begadang
Ia mencontohkan penggunaan alat seperti MRI. Ketika fasilitas kesehatan telah memiliki teknologi pemeriksaan canggih, belum tentu tersedia dokter dengan kompetensi khusus yang dapat membaca hasil pemeriksaannya dengan cepat.
“Penyebaran dokter di Indonesia belum begitu merata. Sehingga pada saat kita lakukan modernisasi alat kesehatan, salah satu misi kami seperti MRI itu tidak serta-merta ketersediaan dokter yang bisa menganalisis hasilnya juga secepat peralatannya,” ujar Eko dalam media briefing Philips Future Health Index 2026 Indonesia Report di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Baca juga: Studi Ungkap Lingkar Paha Berkaitan dengan Risiko Penyakit Jantung
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Kemenkes mengembangkan pemanfaatan AI untuk membantu membaca hasil pemeriksaan berbasis gambar. Eko menjelaskan, hasil pemeriksaan dari fasilitas kesehatan, terutama di tingkat primer, dapat dikumpulkan secara terpusat.


















































