loading...
Inti dari seluruh rangkaian ibadah haji adalah pelaksanaan wukuf di Padang Arafah. Secara hukum fikih, setiap jemaah haji diwajibkan untuk hadir secara fisik. Foto/Media Center Haji 2026
MAKKAH - Inti dari seluruh rangkaian ibadah haji adalah pelaksanaan wukuf yang berlangsung di Padang Arafah pada hari ini, Selasa (26/5/2026). Secara hukum fikih, setiap jemaah haji diwajibkan untuk hadir secara fisik di hamparan padang pasir tersebut pada waktu yang telah ditentukan.
Tanpa kehadiran fisik di tempat dan waktu yang sakral ini, ibadah haji seorang Muslim akan berdampak ketidakabsahan. Musyrif Diny, Asrorun Niam Sholeh menegaskan bahwa keutamaan Arafah muncul karena adanya perpaduan mutlak antara dua dimensi, yakni ruang dan waktu.
Baca juga: Suhu Padang Arafah Tembus 47 Derajat, Jemaah Haji Waspadai Heatstroke
"Yang pertama adalah tempat yang sudah ditentukan, tidak boleh kita keluar dari tempat yang ditentukan karena akan berdampak pada ketidakabsahan. Yang kedua adalah soal waktu. Keutamaan dua hal ini. Kalau kita berada di Arafah di luar waktu itu, ya seperti tanah biasa saja," ujar Niam dalam keterangannya, Selasa (26/5/2026).
Lantas, apa yang seharusnya dilakukan oleh jutaan jamaah haji saat berada di momentum krusial tersebut?
Ketua MUI Bidang Fatwa ini menjelaskan bahwa Arafah adalah panggung besar untuk kontemplasi dan muhasabah (introspeksi diri).
Niam menambahkan, secara spiritual, suasana wukuf merupakan miniatur atau simbolisasi dari Padang Mahsyar di hari kiamat kelak. Hal ini menjadi sebuah momen, di mana seluruh manusia yang telah wafat akan dibangkitkan kembali dalam situasi dan kondisi yang sepenuhnya setara.
Baca juga: Jelang Wukuf Arafah, Musyrif Diny Titip Doa untuk Kedamaian dan Kesejahteraan Indonesia
Di Arafah, segala atribut duniawi dilepaskan. Jutaan jamaah bergerak dan berkumpul dengan mengenakan pakaian yang sama: dua helai kain putih tanpa jahitan bagi laki-laki.


















































