Mengenal Tanda Haji Mabrur Beserta Dalil Lengkapnya

20 hours ago 35

loading...

Haji mabrûr bukanlah sekadar haji yang sah. Mabrûr artinya diterima oleh Allah Azza wa Jalla, dan sah artinya menggugurkan kewajiban. Foto ilustrasi/ist

Mengenal tanda haji mabrur ini penting diketahui umat Muslim. Apa saja tanda haji mabrur tersebut dan bagaimana dalilnya?
Semua jemaah yang telah melaksanakan ibadah haji , pasti mencita-citakan menjadi haji mabrur. Haji mabrûr bukanlah sekadar haji yang sah. Mabrûr artinya diterima oleh Allah Azza wa Jalla, dan sah artinya menggugurkan kewajiban.

Syaikh Shaleh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan dalam bukunya yang diterjemahkan Abu Zakaria Sutrisno berjudul "Ringkasan Fiqih Haji" menjelaskan, bisa jadi haji seseorang sah sehingga kewajiban berhaji baginya telah gugur, namun belum tentu hajinya diterima oleh Allah Azza wa Jalla. "Jadi, tidak semua yang hajinya sah terhitung sebagai haji mabrûr,"ungkap Syaikh Shaleh bin Fauzan.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathâiful Ma’ârif Fîma Li Mawâsimil ‘Am Minal Wazhâif mengatakan: “Yang hajinya mabrûr sedikit, tapi mungkin Allah Azza wa Jalla memberikan karunia kepada jemaah haji yang tidak baik dikarenakan jama’ah haji yang baik.”

Baca juga: Ada Hari Tasyik, Bagaimana Melaksanakan Puasa Ayyamul Bidh di Bulan Zulhijjah?

Di antara tanda-tanda haji mabrûr yang telah disebutkan para Ulama adalah:

Tanda-tanda Haji Mabrur

1. Harta yang dipakai untuk haji adalah harta yang halal

Karena Allah tidak menerima kecuali yang halal, sebagaimana ditegaskan oleh sabda Nabi SAW:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا

"Sungguh Allah baik, tidak menerima kecuali yang baik. [HR Muslim]

Orang yang ingin hajinya mabrûr harus memastikan bahwa seluruh harta yang ia pakai untuk haji adalah harta yang halal, terutama bagi mereka yang selama mempersiapkan biaya pelaksanaan ibadah haji tidak lepas dari transaksi dengan bank. Jika tidak, maka haji mabrûr bagi mereka hanyalah jauh panggang dari api.

2. Amalan-amalannya dilakukan dengan baik, sesuai dengan tuntunan Nabi SAW

Paling tidak, rukun-rukun dan kewajibannya dijalankan, dan semua larangan ditinggalkan. Jika terjadi kesalahan, maka hendaknya segera melakukan penebusan yang telah ditentukan.

Di samping itu, haji yang mabrûr juga memperhatikan keikhlasan hati, yang seiring dengan majunya zaman semakin sulit dijaga. Mari merenungkan perkataan Syuraih al-Qâdhi: “Yang (benar-benar) berhaji sedikit, meski jama`ah haji banyak. Alangkah banyak orang yang berbuat baik, tapi alangkah sedikit yang ikhlas karena Allah Azza wa Jalla.”

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |